Pakar Psikologi Politik, Hamdi Muluk menilai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam tes wawasan kebangsaan (TWK) untuk alih status pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi ASN tak ada yang salah. Dalam tes psikologi, menurutnya itu lumrah dilakukan untuk mengukur kecenderungan seseorang terhadap suatu hal.

“Sebenarnya gak ada yang salah dari cara begitu, asal kemudian bahwa sang pewawancara mengerti betul apa yang sedang dia kejar. Jadi kalau dia sudah dapat indikasi-indikasi dari tes itu, dia kejar itu,” ujar Hamdi Muluk

Menurut Hamdi Muluk, pertanyaan semisal soal qunut tidaknya saat salat subuh yang disebut turut ditanyakan dalam TWK pegawai KPK, bisa saja untuk membaca kecenderungan seseorang.

“Nah kadang-kadang ada pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ya, saya gak tahu seperti dia mau memulai pertanyaan saja. Seperti yang suka disampaikan di koran itu, ‘anda kalau salat subuh qunut engak sih?’ padahal itu mau memancing, ‘menurut anda qunut itu bidah atau engak?’, kalau bidah wah ini wahabi nih, misalnya gitu ya,” katanya.

Hamdi menerangkan, dalam asesmen TWK seperti itu tentu saja pertanyaan yang dilontarkan tak main-main. Idealnya setiap item pertanyaan yang keluar dari mulut pewawancara sudah melalui tahapan yang teruji untuk membaca kecenderungan aktor yang diwawancara.

“Kami selalu punya golden rule begini, kalau kita melakukan tes-tes yang sensitif begini, kita pakai tool kedua, namanya implicit association test,” ujarnya.