Ketua DPR RI Puan Maharani mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dan membangun optimisme di tengah pandemi Covid-19.

Kebesaran hati seluruh pihak untuk berempati dan berkontribusi positif sangat dibutuhkan dalam masa-masa sulit seperti saat ini.

“Tumbuhkan, pupuk, dan jaga selalu nyala api optimism bangsa kita di tengah ancaman Covid-19. Jangan saling tuding atau justru menyalahkan pihak-pihak yang sedang dan terus bekerja keras untuk menangani pandemic ini demi menyelamatkan anak bangsa,” kata Puan Maharani, di Jakarta.

Puan menegaskan virus corona menginfeksi tanpa memandang suku, agama, ras, dan kelompok.

Oleh karena itu, segala perbedaan harus dikesampingkan untuk bersama-sama melawan virus yang sudah menyusahkan sendi kehidupan selama dua tahun ini.

“Singkirkan segala perbedaan untuk menjawab persoalan kemanusiaan ini dengan berempati dan bergotong-royong. Agar kita bisa melakukan yang terbaik untuk membantu menanggulangi wabah ini,” ujar mantan Menko PMK itu.

Hasil riset Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) yang dilakukan pada 26 Mei hingga 2 Juni 2021 menunjukkan tingkat resiliensi orang Indonesia pada berbagai tingkat usia cenderung redah.

Padahal, resiliensi masyarakat saat ini sangat diperlukan untuk menghadapi tekanan dan ketidakpastian selama masa pandemi.

Dalam penelitian yang dilakukan secara daring tersebut, daya tahan psikis sebagian besar responden turun dengan cepat setelah mengalami peristiwa emosional yang signifikan. Selain itu, sebagian besar responden tidak tahan terhadap stress maupun sakit.

Sebagian besar responden yang diteliti sulit membuat strategi untuk kembali ke keadaan normal setelah mengalami situasi sulit dan terpukul. Bahkan, tidak sedikit yang pesimistis dalam memandang masa depan.

Kondisi itulah yang menggambarkan tingkat kapasitas psikologis individu untuk bangkit kembali dari kesulitan, konflik, ketidakpastian, ataupun kegagalan masyarakat cenderung rendah.

Perempuan pertama yang menjabat Ketua DPR RI ini mengimbau agar seluruh komponen bangsa tidak saling tuding, tidak saling serang dan berseberangan. Persatuan dan kesatuan seluruh elemen bangsa sangat dibutuhkan di tengah pandemi.

Optimisme yang lahir dari masing-masing pribadi mesti menular dengan cepat agar pemulihan bias segera terwujud di nusantara. Untuk itu, setiap anak bangsa perlu belajar untuk mengenal karakteristik, potensi, dan kekuatan dirinya masing-masing.

Selain itu, kekuatan di luar dirinya seperti jejaring pertemanan, perlu didata dan dikenali. Jejaring ini yang nantinya dapat digunakan sebagai ‘support system’ bila terjadi persoalan atau terinfeksi Covid-19.

“Masih banyak energi positif yang murni bangkit dari anak-anak bangsa dan saya yakin akan berkontribusi banyak dalam penanganan pandemi ini. Mari membangun optimisme, jangan saling tuding,” ujar Puan.

Dia menyayangkan adanya pihak-pihak yang justru bersikap bahkan mengeluarkan pernyataan yang berpotensi melukai hati rakyat. Sikap yang ingin mengambil keuntungan secara politik tersebut tak pantas diungkapkan di tengah penderitaan dan perjuangan seluruh anak bangsa menghadapi ancaman pandemi Covid-19.

“Yang kita butuhkan saat ini adalah imun, rasa empati, dan gotong royong yang kuat untuk bias sama-sama keluar dari masa-masa sulit ini. Bukannya ucapan yang saling melemahkan dan mengikis persatuan,” ujarnya.

Rasa sakit dan kesepian para pasien Covid-19 juga merupakan penderitaan seluruh masyarakat Indonesia. Maka dari itu, Puan mengajak para pemimpin di Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah, bangkit dan bergerak bersama menuju tujuan yang sama, Indonesia pulih.

“Rasa empati kita tidak boleh sekecil virus yang sedang kita lawan. Tetapi harus sebesar jiwa-jiwa yang sedang berharap dan berjuang untuk sembuh,” pungkas Puan Maharani.