Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 dan Level 3, sejak 26 Juli hingga 2 Agustus 2021 di Jawa-Bali telah berhasil untuk menurunkan kasus aktif itu hingga mencapai 50% dari jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 pada 15 Juli 2021.

“Kalau kita lihat, sejak puncaknya pada tanggal 15 Juli 2021, sampai dengan hari ini menunjukkan penurunan. Kita melihat angka itu sudah 50%. Ini saya kira memberikan harapan yang bagus tapi kita tetap harus berhati-hati karena menghadapi delta varian ini,” jelasnya.

Meski telah mengalami penurunan kasus aktif, namun penerapan PPKM Level 3 dan 4 di beberapa wilayah di Jawa-Bali tetap dilanjutkan pada 3-9 Agustus 2021. Pasalnya, sebanyak 12 kabupaten/kota di Jawa-Bali akan menerapkan PPKM Level 3 dan satu kabupaten/kota menerapkan PPKM Level 2. Sementara beberapa wilayah akan kembali menerapkan PPKM Level 4.

Sementara itu, terkait alasan pemberlakuan PPKM Level 4 di sejumlah wilayah di Pulau Jawa-Bali, kata Luhut, didasarkan pada beberapa daerah masih tingginya tingkat kematian pasien Covid-19.

“Terdapat beberapa kabupaten/kota yang akhirnya harus kembali ke level 4, bukan karena peningkatan kasus aktif, tetapi lebih kepada peningkatan kasus kematian. Terkait beberapa wilayah yang masuk level 3 dan 4 akan dikeluarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri dalam waktu dekat,” sambung Luhut.

Hal senada juga disampaikan oleh Juru Bicara (Jubir) Pemerintah Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan, bahwa PPKM Level 4 periode 26 Juli hingga 2 Agustus menunjukkan perbaikan kasus di sejumlah indikator, seperti penurunan jumlah kasus harian, jumlah tempat tidur di rumah sakit atau BOR, dan meningkatnya angka kesembuhan. Secara umum PPKM Level 4 telah menunjukkan hasil yang baik.

Wiku menuturkan bahwa kebijakan pemerintah dalam menangani kasus COVID-19 adalah berpijak pada pilar utama yakni protokol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak), 3T (testing, tracing, treatment), dan vaksinasi. Akan tetapi, pemerintah dan masyarakat menghadapi ancaman yang sama di saat pandemi adalah perekonomian. “Karena itu, kebijakan yang diberlakukan harus dinamis dan adaptif menyesuaikan dengan perkembangan COVID-19,” tutur Wiku dalam konferensi pers, Selasa (3/8).

Lebih lanjut, Wiku mengatakan bahwa saat ini pemerintah telah memutuskan untuk memperpanjang PPKM Level 4 hingga 9 Agustus mendatang. Dampak dari implementasi kebijakan ini baru akan terlihat pada minggu ketiga dan dapat bertahan selama enam minggu.

“Dengan sudah menurunnya kasus selama dua minggu, kita tetap perlu melanjutkan perjuangan agar penurunan kasus dapat terus terlihat,” tandas Wiku. Ia menekankan kepada masyarakat untuk selalu menerapkan prtokol kesehatan dengan disiplin dan ketat agar kasus COVID-19 tidak kembali meningkat.

Sementara itu, Epidemiolog Universitas Indonesia (UI), Iwan Ariawan menilai bahwa perpanjangan PPKM Level 4 itu sudah merupakan keputusan yang tepat. Sebab, sebagian besar kota/kabupaten di Pulau Jawa dan Bali masih berada di level 4. Meski demikian, berdasarkan pemantauan tim pandemi FKM UI juga memperlihatkan adanya penurunan kasus COVID-19, tapi belum terkendali.

Menurut Iwan, bisa dikatakan terkendali apabila angka reproduksi efektif (Rt) kurang dari 1, dan saat ini masih lebih dari 1. Dengan adanya PPKM Level 4 dan penguatan 3T saat ini, ia berharap Rt bisa segera turun. (*)