Anggota Komisi IX DPR , Darul Siska di Jakarta pada Kamis (19/8/2021) mengatakan angka kesembuhan pasien Covid-19 terus meningkat. Namun ia mengingatkan masyarakat agar jangan terlena.

Menurut Darul Siska dua hari terakhir, pasien sembuh selalu di atas 29 ribu. Oleh karena itu, masyarakat diimbau agar tidak terlena merespons tren positif tersebut.

“Angka kesembuhan yang lebih besar dari angka positif harian adalah kabar yang menggembirakan, tetapi data tersebut tidak boleh membuat kita terlena,” katanya.

“Masyarakat tetap harus waspada dengan menerapkan protokol kesehatan. Pemerintah tetap perlu meningkatkan testing dan tracing, serta menggencarkan vaksinasi. Karena fatality rate kita juga masih tinggi,” Darul menjelaskan.

Darul menilai tren penurunan kasus Covid-19 tidak semata-mata karena program vaksinasi, tetapi juga kesadaran masyarakat yang semakin baik.
Ia berharap program vaksinasi nasional untuk menciptakan herd immunity berjalan tanpa kendala.

“Pemerintah dan semua pihak harus bekerja keras untuk mengejar target vaksinasi agar mencapai herd immunity dengan demikian secara bertahap kita bisa mengendalikan Covid-19,” katanya.

Darul mengatakan ada beberapa pekerjaan pemerintah dalam memerangi Covid-19. Pertama, soal memenuhi kebutuhan vaksin.Kedua, melakukan vaksinasi sekitar 2 juta-2,5 juta orang per hari.

Ketiga, melakukan testing dan tracing sesuai standard WHO. Keempat, menjamin validitas data harian. Kelima, menjaga ketersediaan obat Covid-19 dengan harga terjangkau.

Sementara itu, ahli Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Iwan Ariawan juga menyebut meningkatnya jumlah orang yang sembuh dari infeksi Covid-19 merupakan kabar baik.

“Tetapi tetap harus waspada agar kasus tidak naik lagi. Tetap harus 3M, 3T, dan vaksinasi,” kata Iwan.

Menurut Iwan, wabah Covid-19 bisa terkendali dengan gabungan 3M, 3T, dan vaksinasi. Oleh karena itu menurut dia tetap harus selalu waspada karena virus tersebut akan tetap ada bersama dalam kehidupan manusia untuk waktu yang lama.

Iwan menjelaskan perlunya terus meningkatkan cakupan protokol kesehatan, pelacakan kontak erat dan vaksinasi.

“PR besar di pelacakan kontak erat yang masih di rasio 1 banding 6, dari target 1 banding 15 dan kecepatan pelacakan kontak erat yang harus lebih kecil dari 72 jam sejak kasus terkonfirmasi,” kata Iwan.

Iwan juga mengatakan pelonggaran aktivitas ekonomi dan sosial harus dilakukan secara berhati-hati dan bertahap agar tidak terjadi peningkatan kasus lagi. Prosedur pelonggaran aktivitas harus dirancang dengan teliti berikut perangkat pemantauannya sebelum pelonggaran tersebut dilakukan.

“Saat ini proses pembukaan mal dan industri sudah dilakukan dengan hati-hati oleh pemerintah, dimulai dengan uji coba dahulu. Untuk aktivitas lainnya yang berpotensi kerumunan orang harus dilakukan dengan cara yang sama,” ujarnya. (**)