Ajakan untuk melakukan Aksi Unjuk Rasa atau demontrasi di masa pandemi dinilai sebagai tindakan yang tergolong tidak bertanggung jawab. Sebelumnya pemerintah sudah menyatakan varian delta dari Covid-19 ini tidak bisa dikendalikan, oleh karenanya setiap ajakan untuk berkumpul dalam jumlah besar adalah perbuatan tidak bertanggung jawab.

Gerakan massa seharusnya dilakukan melalui pengkajian akademis dan rasional, bukan gerakan yang reaksioner. Oleh karena itu masyarakat harus di berikan pemahaman yang mendalam sebelum reaktif turun kejalan karena merasa isu yang di angkat mewakili dirinya atau mewakili kelompoknya. Kita tidak keberatan jika sikap kritis terhadap pemerintah dilakukan di ruang media. Sepanjang semuanya proporsional, bukan hoaks dan ujaran kebencian yang didasarkan pada fitnah.

Menyikapi hal tersebut, Peneliti Makara Strategic Insight, Iwan Freddy, menghimbau masyarakat agar tidak terprovokasi ajakan aksi demo yang berpotensi memicu peningkatan kasus penularan Covid-19.

“Masyarakat agar tidak terprovokasi ajakan aksi demo yang berpotensi memicu peningkatan kasus penularan Covid-19”, ujar Iwan Freddy.

Lebih lanjut dirinya mengatakan bahwa masyarakat untuk tidak terhasut dengan ajakan aksi demo di media sosial, karena akan berpotensi menciptakan kerumunan dan menambah penularan Covid-19. Masyarakat sebaiknya tidak membuat kerumunan karena potensi penularan Covid-19 masih tinggi, apalagi varian delta sangat cepat menular, ganas dan mematikan. Kapasitas kuburan sudah penuh, jangan lagi masyarakat membuat kerumunan yang dapat menimbulkan klaster Covid-19.

“Masyarakat untuk tidak terhasut dengan ajakan aksi demo di media sosial, karena akan berpotensi menciptakan kerumunan dan menambah penularan Covid-19. Masyarakat sebaiknya tidak membuat kerumunan karena potensi penularan Covid-19 masih tinggi, apalagi varian delta sangat cepat menular, ganas dan mematikan. Kapasitas kuburan sudah penuh, jangan lagi masyarakat membuat kerumunan yang dapat menimbulkan klaster Covid-19”, tambahnya.