PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI membantu usaha rakyat dapat melewati pandemi Covid-19.

Hal itu disampaikan Direktur Bisnis UMKM BNI Muhammad Iqbal dalam Webinar Business Matching, Sabtu (18/9/2021).

“UMKM paling terdampak. Kami BNI berkomitmen membantu mendorong UMKM bisa melewati pandemi dan kembali kepada tren yang sudah terjadi sebelum pandemi,” aku Iqbal.

BNI meningkatkan plafond kredit usaha rakyat (KUR) untuk UMKM dari Rp198 triliun di tahun 2020 menjadi Rp285 triliun di tahun 2021 atau tumbuh 44 persen.

“Perhatian kepada UMKM menjadi concern kita semua bagian dari ekosistem perekonomian. Kita bersama-sama mendorong pemberdayaan UMKM,” tambahnya.

Menurutnya, UMKM memiliki beberapa kendala yang mesti diselesaikan.

Mulai dari akses permodalan, akses teknologi, akses layanan keuangan, dan akses pasar.

Iqbal menjelaskan BNI juga melakukan penguatan platform digital Digiku.

Ia meyakini platform Digiku ini mampu membantu penyaluran pendanaan bagi usaha rakyat seperti UMKM.

“Ini bagian dari komitmen kami untuk terus menerus mempersiapkan infrastruktur dengan perangkat-perangkat yang kami miliki,” lanjutnya.

BNI tidak hanya menyiapkan pembiayaan tetapi skema pendampingan sehingga UMKM dapat berkontribusi secara optimal.

Perbankan plat merah ini menargetkan pembiayaan ke UMKM naik 30 persen di tahun 2024 atau lebih tinggi dari rata-rata yakni 20 persen.

“Jadi ini akan sangat kontekstual bergantung dari UMKM masing-masing. kondisi akan berbeda di antara pelaku UMKM,” imbuhnya.

Ketua Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) M. Ikhsan Ingratubun menekankan sektor UMKM sangat membutuhkan pendampingan berkelanjutan.

Menurutnya, guidance pengelolaan keuangan menjadi hal yang krusial.

“Terjadinya pandemi ini menurut catatan kami minimal tiga bulan dana cadangan harus ada bagi UMKM. Jika tidak langsung bangkrut,” Ucap Ikhsan.https://d-30142116862965806828.ampproject.net/2109032350000/frame.html

Ia memaparkan rata-rata kelemahan UMKM memasukkan keuangan usaha ke dalam rekening pribadi.

Ikhsan menilai hal ini menjadi critical point yang harus dibenahi oleh perbankan sebagai pemberi modal.

“Saya kira dalam pembinaan harus disampaikan bahwa UMKM perlu memiliki paling tidak dua rekening. Satu dari usahanya, kedua pribadinya. Dan harus dihitung modal kerja hingga biaya operasional,” pungkasnya.