Upaya untuk mendorong ekspansi usaha Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ke luar negeri atau BUMN Go Global tak semudah membalikkan telapak tangan. Selain situasi penuh ketidakpastian akibat pandemi Covid-19, langkah tersebut juga dihadapkan pada sejumlah tantangan besar.

Untuk mengukuhkan kehadiran BUMN di panggung internasional, Men¬teri BUMN, Erick Thohir mengusulkan pem¬bentukan Indonesia Incorporated.

Indonesia Incorporated merupakan suatu konsep yang menggabungkan operasional BUMN di suatu negara dalam satu atap atau kantor besar. Ide ini muncul lantaran banyaknya BUMN yang memiliki kantor cabang di luar negeri, tetapi secara operasional masih berbisnis sendiri-sendiri.

Di lain pihak, Kementerian Luar Negeri juga telah aktif menjalankan diplomasi ekonomi yang dilakukan oleh untuk mendukung ekspansi BUMN atau BUMN Go Global. Bahkan langkah itu sudah diambil sebelum Kemenlu menandatangani nota kesepahaman dengan Kementerian BUMN pada pertengahan tahun lalu.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah mengungkapkan, kementerian itu sudah sejak lama membantu ekspansi BUMN ke luar negeri, terutama BUMN dari sektor konstruksi yang membangun proyek strategis di sejumlah negara, serta bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara membuka kantor cabangnya di luar negeri.

“Sebenarnya diplomasi ekonomi untuk membantu BUMN ini sudah ada sejak lama. Contohnya, ketika Wika membangun proyek perumahan dan jalan tol di Aljazair itu kami bantu lewat kerja sama bilateral. BUMN lainnya, termasuk perbankan yang ekspansi itu juga kami bantu lewat diplomasi ekonomi dengan negara tujuan mereka,” katanya.

Selama ini diplomasi ekonomi dilakukan oleh Fungsi Ekonomi yang terdapat di masing-masing perwakilan, baik Kedutaan Besar Republik Indonesia maupun Konsulat Jenderal Republik Indonesia.

Peneliti BUMN dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Toto Pranoto menilai, upaya yang dilakukan untuk mendorong BUMN Go Global belum cukup tanpa adanya dukungan pembiayaan, karena perencanaan hingga prosedur yang harus dilalui sebelum akhirnya ekspansi membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Dukungan pembiayaan dari Indonesia Eximbank sangat diharapkan untuk mendorong BUMN Go Global. Dukungan untuk BUMN dari Indonesia Eximbank masih terbatas. Padahal ini cukup prospektif,” katanya.

Menurut Toto konsep Indonesia Incorporated yang diusulkan oleh Menteri BUMN, Erick Thohir tak hanya memindahkan operasional BUMN di suatu negara di satu atap untuk mempermudah koordinasi dan efisiensi, tetapi juga diperlukan model bisnis baru yang mensinergikan setiap BUMN dalam satu konsorsium.
Intinya menurut Toto bahwa BUMN yang beroperasi di suatu negara bersinergi menggarap satu proyek secara “keroyokan”.

“Ada rencana bisnis konsorsium BUMN, misalnya proyek pertambangan di salah satu negara di Afrika. BUMN konstruksi yang akan membangun jalur kereta api dan fasilitas ekspor di pelabuhan, PT INKA kemudian menyediakan kereta atau gerbong barang. BUMN pertambangan diberikan konsesi 25 tahun untuk mengelola dan hasilnya dibagi dengan pemerintah setempat,” tuturnya.

Sementara itu, Pakar diplomasi ekonomi dari Program Studi Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, Erza Killian menilai, selain keterlibatan Kementerian Luar Negeri juga melibatkan Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang selama ini mengelola Pusat Promosi Perdagangan Indonesia (Indonesian Trade Promotion Center/ITPC) di sejumlah negara. Keberadaan ITPC bisa dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan bisnis BUMN di luar negeri.

Menurut Erza, selama ini Kemendag juga ikut membantu BUMN berekspansi ke luar negeri, khususnya dalam hal promosi dan pemasaran produk. (**)