Pemerintah terus mengejar kekebalan kelompok (herd immunity) sejak ditemukan kasus covid-19 pertama di Indonesia pada Maret 2020 lalu. Pemerintah Indonesia pun terus berupaya menekan laju penularan covid-19 dengan melakukan vaksinasi secara nasional, penerapan protokol kesehatan, pembatasan kegiatan sosial, hingga rapid test massal.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, Indonesia akan menyelesaikan vaksinasi covid-19 pada Januari 2022. Diharapkan vaksinasi tersebut menjangkau 70 persen populasi saat ini dengan 208 juta sasaran vaksin untuk membentuk herd immunity.

Sementara itu, Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono mengapresiasi kinerja pemerintah Indonesia dalam hal menangani pandemi COVID-19 karena dinilai berhasil.

“Kunci kesuksesan penanganan COVID-19 adalah koordinasi dan komunikasi intens antara pusat dan daerah,” kata Pandu di Jakarta, Minggu (26/9/2021).

Pandu menilai turunnya angka penyebaran COVID-19 di Pulau Jawa dan Bali tidak lepas dari vaksinasi yang gencar dilakukan dan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berlevel.

“Secara bertahap saran-saran dilakukan dan PPKM diganti levelnya supaya memberikan efek psikologis. Level 1 itu seperti penggunaan aplikasi PeduliLindungi di setiap kegiatan, dan semua harus sudah vaksin,” ujarnya.

Pandu sendiri mengaku terkejut dengan angka penyebaran COVID-19 di Indonesia bisa turun dengan cepat. Oleh karena itu, tidak heran jika negara-negara lain juga mengapresiasi kinerja pemerintah Indonesia dalam menangani COVID-19.

Kendati demikian, Pandu mengingatkan pemerintah dan mengajak masyarakat untuk tidak terlena dengan kondisi pandemi COVID-19 saat ini. Sebab, masa seperti saat ini harus dimanfaatkan untuk terus berbenah guna meningkatkan ketahanan kesehatan masyarakat.

“Jangan lengah. Kita alami lonjakan kedua karena masuknya varian Delta di bulan Juli. Karena itu, masyarakat harus tetap waspada supaya tidak terjadi lonjakan ketiga,” kata dia.

Disi lain, Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dinilai berhasil memulihkan ekonomi Indonesia dengan baik bersamaan dengan penanganan pandemi COVID-19 yang melanda dunia.

Terkait pemulihan ekonomi, Kepala Ekonom Bank Dunia Kawasan Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo menyatakan percepatan vaksinasi dan pengujian untuk mengendalikan COVID-19 dapat membangkitkan kegiatan ekonomi. Bank Dunia memperkirakan Indonesia akan mampu melakukan vaksinasi terhadap lebih dari 60 persen penduduk pada awal pertengahan tahun 2022.
Jika vaksinasi sudah mencapai 60 persen jumlah penduduk maka kegiatan ekonomi dapat dipulihkan kembali bahkan melipatgandakan angka pertumbuhan pada tahun berikutnya.

“Vaksinasi tidak menghilangkan infeksi. Namun mengurangi angka kematian secara signifikan sehingga kegiatan ekonomi dapat dilakukan lagi,” kata Aaditya Mattoo dalam World Bank East Asia and Pacific Economic Update Briefing di Jakarta, Selasa (28/9).

Aadiyta mengatakan, Kawasan Asia Timur dan Pasifik perlu melakukan upaya serius dalam empat bidang untuk menangani COVID-19 yang berkepanjangan yakni mengatasi keraguan tentang vaksin dan keterbatasan kapasitas distribusi.

Selain itu meningkatkan pengujian, pelacakan dan isolasi untuk mengendalikan infeksi serta meningkatkan produksi vaksin regional untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan impor.

“Terakhir yaitu memperkuat sistem kesehatan untuk mengatasi berkepanjangannya penyakit ini,” ujarnya.

Aadiyta juga mengatakan kenaikan kasus COVID-19 menyebabkan perusahaan-perusahaan kehilangan aset dan menunda investasi yang produktif dengan dampak terparah dialami oleh perusahaan kecil. (**)