Jakarta — Ahli Biostatistik dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Iwan Ariawan memprediksi capaian warga Indonesia yang sudah menerima vaksin virus corona (covid-19) minimal dosis pertama baru mencapai 55 persen pada akhir tahun nanti. Kondisi itu menurutnya bisa menimbulkan kekhawatiran baru lantaran gelombang ketiga covid-19 yang diprediksi terjadi pada Desember 2021 hingga Januari 2022 akan menyasar 45 persen warga yang belum menerima vaksin.

“Yang sudah divaksin masih separuh, yang belum mempunyai kekebalan terhadap covid-19 mereka ini bisa kena, dan 50 persen dari penduduk Indonesia ini banyak. Nah, ini bisa terjadi wabah bagi mereka yang belum divaksin ini,” kata Iwan dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB Indonesia, Selasa (28/9) yang lalu. Iwan juga menegaskan bahwa mereka yang telah menerima vaksin covid-19 pun masih berpotensi untuk terpapar covid-19. Selain itu, mutasi virus SARS-CoV-2 yang terus berkembang menurutnya dapat memperparah kondisi warga yang belum divaksin.

Kendati demikian, Iwan juga mengingatkan bahwa kekebalan tubuh manusia dapat terbentuk usai mereka terinfeksi covid-19, sehingga tak hanya ketika warga telah mendapat vaksin covid-19. “Kalau terjadi wabah seperti itu, bisa terjadi juga mutasi. Kalau mutasi ini merepotkan, karena bahkan yang sudah divaksin pun nanti bisa terkena juga. Karena kalau mutasi baru yang lebih ganas, kita yang sudah divaksin bisa tidak mempan lagi vaksinnya, itu yang harus kita hindari,” jelasnya.

Untuk itu, Iwan mewanti-wanti seluruh masyarakat agar terus disiplin dalam melakukan protokol kesehatan virus corona, salah satunya menjaga diri dari kerumunan agar lonjakan covid-19 tidak terjadi di Indonesia. Iwan sekali lagi juga meminta warga untuk tetap waspada lantaran virus SARS-CoV-2 yang terus bermutasi dan menciptakan varian baru memiliki karakteristik yang kadang lebih berbahaya sehingga berpotensi membuat penularan lebih tinggi hingga terjadi lonjakan covid-19.

Selain berpesan kepada warga, Iwan juga meminta pemerintah untuk terus melakukan evaluasi atas kebijakan yang dikeluarkan. Ia menyadari bahwa saat ini pemerintah tengah berupaya memulihkan aspek sosial-ekonomi secara bertahap, namun ia tetap mengimbau agar aspek kesehatan menjadi prioritas utama di tengah pandemi covid-19. “Nah, kita lihat itu pengalaman-pengalaman kita yang dulu, kalau mobilitas naik kemudian akan diikuti kasus naik. Nah, ini yang kita tidak ingin terjadi sehingga harus dilakukan dengan hati-hati pelonggaran mobilitas ini,” ujar Iwan.

Epidemiolog UI Tri Yunis Miko sebelumnya memprediksi Indonesia berpotensi masuk puncak ketiga virus corona pada Desember 2021 mendatang. Prediksi gelombang ketiga itu menurutnya bakal terjadi apabila capaian vaksinasi covid-19 nasional tak sampai 50 persen pada akhir tahun 2021. Selain itu, banyaknya relaksasi atau  pelonggaran aktivitas selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) turut menyumbang potensi lonjakan kasus covid-19 di Indonesia terulang kembali, utamanya pada libur panjang Natal dan akhir tahun mendatang.

Tak jauh berbeda, Badan Kesehatan Dunia (WHO) turut mengingatkan kondisi pandemi covid-19 di Indonesia yang masih belum keluar dari zona bahaya kendati penambahan kasus harian covid-19 di Indonesia mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Senior Adviser to WHO Director General Diah Saminarsih mewanti-wanti ancaman gelombang ketiga di Indonesia lantaran mobilitas masyarakat mulai meningkat lagi bahkan menyerupai kondisi sebelum pandemi covid-19 menjangkiti Indonesia. (*)