Jakarta — Pemerintah menargetkan vaksinasi Covid-19 dosis pertama mencapai 70 persen dari populasi penduduk di Indonesia, pada akhir tahun ini.

Vaksinasi pertama dilakukan perdana pada Presiden Joko Widodo dan sejumlah pejabat publik dan tokoh masyarakat pada awal Januari lalu. Dilanjutkan pada Februari, dengan vaksinasi secara bertahap untuk kelompok prioritas yang rentan terpapar COVID-19, khususnya tenaga kesehatan.

Juru bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengklaim target itu berhasil dicapai. Ini tidak lepas dari keterlibatan banyak pihak, termasuk pihak swasta yang membantu percepatan distribusi vaksin.

“Akhirnya di akhir tahun ini, Indonesia mencapai target vaksinasi oleh WHO di mana 70 persen populasinya sudah divaksin dosis pertama, dan 40 persen populasi telah divaksin dosis kedua,” kata Wiku dalam konferensi pers, Selasa (28/12/2021).

Wiku juga menyinggung soal upaya pemerintah menjamin ketersediaan vaksin jangka panjang serta mendorong kemandirian anak bangsa, dengan menetapkan kandidat vaksin Merah Putih untuk didukung sepenuhnya, termasuk rangkaian proses produksi serta hilirisasinya.

Dalam upaya mempercepat vaksinasi guna mencapai target herd immunity, pada Mei 2021 pemerintah juga bermitra dengan pihak swasta seperti sektor industri, untuk menjadi penyelenggara vaksinasi atau melaksanakan vaksinasi gotong royong.

Sementara itu, Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menyebut capaian vaksinasi di pulau Jawa dan Bali bahkan lebih tinggi dari rata-rata nasional. Meskipun jika dilihat dari cakupan geografis, capaian vaksinasi belum merata.

“Dapat kami laporkan juga bahwa capaian vaksinasi umum dan lansia di Jawa dan Bali juga terus meningkat. Capaian vaksinasi dosis satu dan dua di Jawa dan Bali, masing-masing telah mencapai lebih dari 80 persen dan 60 persen. Sementara hasil sero-survei nasional yang menunjukan tingkat kekebalan masyarakat cukup tinggi. Namun masih terdapat beberapa kabupaten kota, dengan vaksinasi dosis satu di bawah 50 persen. Pemerintah terus mendorong peran serta pemerintah daerah untuk memaksimalkan suntikan vaksin di wilayahnya,” kata Luhut dalam keterangan pers, Senin (27/12/2021).

Epidemiolog Universitas Airlangga Laura Navika Yamani mengapresiasi pencapaian tersebut. Hanya saja, Laura menyarankan pemerintah segera meningkatkan target dan capaian vaksinasi Covid-19. Ini tidak lepas dari kemunculan bermacam varian Covid-19, termasuk varian Omicron.

“Dengan capaian vaksinasi yang bisa dikatakan baik, ini tentunya harus dipertahankan. Dan kalau bisa harus ditingkatkan. Karena ini kan kemunculan varian baru, kita nggak tahu ya seperti apa nanti kondisinya. Target vaksinasi yang di awal itu sekitar 70 persen, itu kan identifikasi dari virus awal yang datang dari Wuhan. Yang memiliki daya tular itu satu orang bisa menularkan ke tiga sampai empat orang. Sedangkan saat ini, itu kan sudah berkembang varian-varian yang baru ya. Ada alfa, beta, delta, bahkan sekarang Omicron,” kata Laura, Kamis (23/12/2021).

Laura juga menyinggung soal adanya perubahan karakteristik virus yaitu peningkatan daya transmisi. Terutama saat ini ada varian Omicron yang disebut lebih menular dibandingkan dengan varian Delta, sampai 5 kali.

“Kalau dari saya hitungan kita, kala Delta bisa 7-10 orang. Berarti cakupan vaksinasinya juga kan tidak lagi 70 persen. Jadi satu dibagi misalkan tadi daya tularnya 10 ya, Maka 0,1. Berarti bisa dihitung 1 dikurangi 0,1 itu kan butuh 90 persen,” kata Laura.

Laura menyebut dengan capaian vaksinasi saat ini, kekebalan komunal bisa dikatakan sudah terbentuk. Tapi untuk mempertahankannya, masyarakat tetap wajib dan terus menerapkan protokol kesehatan. (*)