Juru bicara PRP Jefry Wenda Memegang Foto Filep Karma

zona-damai.com – Kasus meninggalnya aktivis kemerdekaan Papua, Filep Karma yang ditemukan meninggal terdampar di pantai Base G Jayapura Utara menjadi momentum bagi para pendukungnya untuk menunjukkan eksistensi. Meski berdasarkan hasil visum dan penegasan dari pihak keluarga bahwa kejadian tersebut murni karena kecelakaan dan mengajak kepada semua pihak untuk mengikhlaskan serta tak melakukan hal-hal provokatif, namun tak menjadi hal yang memuaskan bagi para simpatisan yang berafiliasi dengan gerakan Papua Merdeka. Bentangan bendera bintang kejora, permintaan adanya investigasi, hingga tuduhan adanya keterlibatan aparat negara dalam kejadian tersebut seakan menjadi agenda pasca pemakaman sang aktivis.

Sebuah channel Youtube bernama Aayaakeemaa dan akun Facebook bernama Benjamin Burton mempublikasikan pernyataan Ketua OPM TPNPB, Jeffey P Bomanak yang menyatakan bahwa Filep Karma yang disebut sebagai pemimpin bangsa Papua sengaja dibunuh oleh BIN dan Kopassus di laut Base G serta sengaja didamparkan diluar pantai. Dirinya bersikeras bahwa tidak mungkin alam Papua membunuh pemimpinnya. Perlu adanya investigasi komprehensif melibatkan pihak internasional untuk mengungkap kasus pembunuhan Filep Karma. Pernyataan tersebut telah menjurus pada provokasi publik dengan tujuan mendiskreditkan aparat dan pemerintah. Tentu bisa kita tebak arahnya, yakni tuntutan kemerdekaan Papua yang sudah lama tak tergaung suaranya.

Permintaan adanya investigasi juga sempat disampaikan oleh sejumlah mahasiswa yang melakukan demonstrasi spontan di depan Rumah Sakit Bhayangkara Jayapura. Massa mengkhawatirkan adanya campur tangan negara dalam kematian Filep Karma. Juru bicara Petisi Rakyat Papua, Jefry Wenda juga menyatakan bahwa pihak kepolisian harus melakukan penyelidikan atas kematian Filep Karma. Sementara itu, bentangan bendera bintang kejora juga terlihat saat massa mengiringi jenazah dari rumah sakit ke rumah duka. Bendera simbol kemerdekaan Papua tersebut dibawa para pelayat sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan Filep Karma. Ketua Dewan Adat Papua (DAP) versi Kongres Luar Biasa, Dominggus Surabut menyatakan bahwa pihaknya bersama koalisi organisasi lainnya akan membentuk tim investigasi terkait kematian Filep Karma. Menurutnya kematian Filep Karma tidak bisa dikecilkan, hanya berdasarkan visum luar dan pernyataan keluarga. Tetapi butuh investigasi yang lebih besar lagi untuk mengetahui sebabnya dan bagaimana bisa meninggal.

Sebelumnya, tuntutan penyelidikan juga disampaikan oleh pihak Amnesty International. Melalui Direkturnya, Usman Hamid meminta aparat penegak hukum dan HAM untuk menginvestigasi kematian Filep Karma. Penyelidikan tersebut disebut penting guna menjawab ada tidaknya indikasi tindak pidana atau pelanggaran HAM dibalik kematian sang aktivis. Penyelidikan yang diminta merujuk pada investigasi atas potensi kematian di luar hukum oleh Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk HAM tahun 2016 atau protocol Minnesota yang menyebut bahwa pada kondisi kematian individu maupun kelompok dalam sebuah kejadian, keluarga seharusnya dilibatkan dan diinformasikan dengan baik mengenai proses identifikasi.

Bantahan Pihak Kepolisian Adanya Tuduhan Filep Karma Tewas Karena Dibunuh

Munculnya tuduhan yang memanfaatkan kedekatan media sosial sebagai rujukan informasi masyarakat bahwa peristiwa kematian Filep Karma merupakan pembunuhan langsung mendapat respon dari pihak aparat kepolisian.

Dalam pernyataannya, Kapolresta Jayapura Kombes Victor Mackbon menegaskan bahwa sebelumnya telah terdapat pernyataan dari pihak keluarga dan ahli forensik dari kepolisian yang menjelaskan bahwa Filep Karma meninggal karena tenggelam. Barang siapa yang hendak melakukan berita bohong atau hoaks maka akan berhadapan dengan tim cyber.

Menjadi tugas aparat bahwa dalam setiap temuan kasus harus dilakukan pengusutan, termasuk dalam kejadian yang menimpa Filep Karma. Tak Perlu adanya pernyataan desakan dari sejumlah pihak, aparat kepolisian pun tengah berupaya untuk mengusut kasus tersebut. Kapolresta Jayapura, Kombes Victor Mackbon kembali memastikan akan bersikap transparan dalam mengusut kasus kematian tokoh papua Merdeka Filep Karma dengan menggandeng Komnas HAM Papua.

Permintaan Putri Filep Karma Agar Kematian Ayahnya Direlakan

Munculnya sejumlah desakan investigasi dan tuduhan penyebab pembunuhan memantik sang putri aktivisi Filep Karma, Andrefina Karma berkomentar. Dalam pernyatannya ia meminta para simpatisan merelakan kematian ayahnya. Ia juga meminta agar tidak ada lagi informasi hoaks yang beredar soal kematian ayahnya. Sekali lagi dijelaskan bahwa kematian Filep Karma murni karena kecelakaan, sehingga tak perlu lagi ada kekerasan dan juga unjuk rasa. Kepada seluruh masyarakat Papua agar mendoakan Filep Karma dan keluarga yang ditinggalkan.

Waspada Provokasi Pasca Meninggalnya Aktivis Papua Filep Karma

Tak semua pihak kemudian mengamini atas keterangan pihak rumah sakit maupun keluarga perihal kematian sang tokoh kemerdekaan Papua, Filep Karma. Kemunculan bendera bintang kejora dan desakan sejumlah pihak oposisi dan kelompok separatis mengindikasikan adanya potensi provokasi pasca kejadian meninggalnya sang tokoh yang mereka kagumi dan banggakan.

Sebagai upaya mengantisipasi kemungkinan buruk tersebut, pihak kepolisian telah melakukan patroli siber pasca meninggalnya tokoh yang disebut karismatik oleh pendukungnya. Dari pantauan di media sosial terlihat beragam spekulasi dan komentar yang muncul mencoba mengurai kematian Filep Karma. Maka sekali lagi, dibutuhkan sinergi antara masyarakat dan aparat dalam upaya mengantisipasi adanya kemungkinan provokasi pasca meninggalnya Filep Karma. Kondusifitias wilayah Papua menjadi satu hal yang didambakan seluruh pihak. Jangan sampai ternoda oleh ulang segelintir pihak yang ingin menunjukkan eksistensi hingga kepentingan pribadi. Adanya tuduhan kepada pihak aparat, khuusnya BIN dan Kopassus bisa dikatakan menjadi strategi kelompok oposisi untuk membangkitkan emosi para simpatisan dengan memanfaatkan kasus kematian Filep Karma. Menjadi kewaspadaan bersama bahwa pergerakan Papua merdeka masih ada di sekitar kita dan siap untuk menunjukkan eksistensi memanfaatkan sejumlah momentum.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)