Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP RI) melaksanakan kegiatan diklat Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP) bagi TNI Polri di Kendari, Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini bertujuan sebagai upaya membentuk para anggota TNI dan Polri menjadi duta/penggerak pengamalan nilai-nilai Pancasila serta menginternalisasi, mengeksternalisasi, dan mengobjektifikasi nilai-nilai Pancasila.

Deputi Bidang Pendidikan dan Pelatihan Dr. Baby Siti Salamah mengatakan, kegiatan PIP ini merupakan bentuk untuk meningkatkan kompetensi anggota TNI dan Polri dalam meliputi aspek pengetahuan, nilai, dan tindakan. Dia mengatakan, aspek pengetahuan yang dimaksud merupakan pengetahuan yang baik dan benar tentang sejarah, arti, isi/muatan, fungsi, kedudukan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila.

“bukan hanya aspek pengetahuan saja tapi, ada juga aspek nilai yaitu mampu memaknai, merefleksikan dan menghargai nilai-nilai Pancasila sehingga memiliki semangat mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila.” Jelasnya saat membuka kegiatan diklat PIP bagi TNI Polri. 

Salah satu narsumber dalam kegiatan Diklat BPIP adalah Pendiri NII Crisis Center yaitu Ken Setiawan yang merupakan mantan aktivis NII dan kini telah insyaf kembali ke NKRI. 

Ken menceritakan bahwa dirinya dahulu adalah orang yang sangat anti terhadap Pancasila karena belajar dengan guru yang salah, tapi kini menjadi garda terdepan dalam mengkampanyekan Pancasila sebagai alat pemersatu karena  telah memahami Pancasila dengan cara yang benar. 

Pancasila katanya dulu dianggap Taghut atau berhala karena merupakan produk manusia yang harus di tolak, diingkari dan ditingggakan, Pancasila disandingkan dengan dengan kitab suci Al-Quran ya pasti njomplang. Jelas Ken. 

Saat ini paham anti Pancasila menurut Ken sudah masuk ke semua lini masyarakat, seperti virus covid yang bisa menimpa siapa saja, tidak pandang sisi usia, pendidikan dan profesi, semua orang berpotensi terpapar paham Anti Pancasila. Termasuk juga aparat TNI dan Polri. Tambah Ken. 

Dikalangan aparat, virus radikalisme yang mengatasnamakan agama biasanya dimulai dari mereka yang belajar dengan guru yang salah di kelompok salafi wahabi, jargon yang trend saat ini adalah Istilah Polri Cinta Sunnah dan TNI Cinta Sunnah

Ken menyebut bahwa semua teroris yang ditanggap Densus 88 di Indonesia itu berlatar belakang paham NII dan Salafi Wahabi Jihadi. 

Awalnya kelihatan berubah menjadi rajin beribadah, tapi selanjutnya biasanya mulai menyalahkan, membid’ahkan dan mengkafirkan bagi mereka yang berbeda paham. 

Syirik kuburan, syirik tahlilan, syirik musik, syirik riba dan lain lain, bahkan ada aparat yang tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya karena dianggap haram, karena terpaksa menyanyi, setelahnya dia istigfar minta ampun terhadap Tuhan karena telah melakukan dosa. 

Ken menyebut saat ini kelompok Salafi Wahabi masif soft di Indonesia karena mereka masih minoritas, jika mereka sudah besar mereka bisa berpotensi melakukan pemberontakan atau kudeta seperti dinegara timur tengah yang kini hancur berantakan. 

Pesan Ken untuk apatat TNI dan Polri, cukup menjadi aparat yang baik dan amanah, dengan mengayomi, melayani dan mengamankan kedaulatan negara ini insyaallah aparat sudah termasuk melakukan jihad yang paling utama, karena hanya aparat yang mendapatkan lisensi tugas khusus dari negara untuk melakukan tindakan jihad dengan tangan dan itu merupakan jihad yang paling utama. 

Masyarakat atau umat itu berjihad dengan hati, itu jihad yang paling lemah, ulama dan tokoh agama berjihad dengan lisan lewat nasehat nasehat keagamaan dan hanya aparat yang berjihad dengan tangan, dan ketika gugur dalam menjalankan tugas maka Insyaallah akan masuk surga paling awal. Tutup Ken.